skip to main
|
skip to sidebar
Ahli tafsir tidak mampu menfsirkan Al Qur'an.
Membanggakan kesesatan karena kebodohan lalu menyebarkannya.
Seorang yang mengaku guru besar di sebuah pesantren pindah agama karena membandingkan Islam dan ajaran lain. Yang menjadi patokan adalah ayat tentang menghidupkan dan mematikan.
Ayat pertama yang dipermasalahkan adalah At Taubah ayat 29 yang artinya:
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.
Sebuah ayat yang disalahartikan oleh syaifudin sebagai perintah untuk membunuh. Sedangkan ajaran lain menyuruh menghidupkan.
Mari kita lihat apa maksud dari ayat. Huruf kapital bukan bermaksud marah, hanya membedakan terjemahan dan penjelasan ayat.
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman"
YANG DIPERANGI ADALAH ORANG YANG TIDAK BERIMAN
"(tidak beriman) kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka,"
CIRI CIRI ORANG TIDAK BERIMAN
"sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk."
APA ALASANNYA? TIDAK MAU BAYAR PAJAK.
Jadi diperangi karena tidak bayar pajak, bukan karena tidak berimannya. Dimanapun ia hidup tetap harus membayar pajak. Apakah karena tidak beriman mereka boleh tidak membayar pajak? Dimana didunia ini jika tidak membayar pajak tidak dihukum?
Kata yang digunakan adalah perangi bukan bunuh. Apakah nantinya bisa terbunuh? Bisa karena itu adalah tindakan hukum terakhir.
Jadi dari 1 ayat saja terlihat bahwa orang yang mengaku ahli tafsir saja tidak bisa menafsirkan Al Qur'an, dengan benar, apalagi oleh orang yang hanya bisa baca atau hanya hafal saja, tanpa mengerti maksudnya.
Inilah ketakutan saya terhadap pembodohan oleh yang mengaku kiai atau ustad sehingga saya mengembangkan blog ini.
Mari kita pelajari maksud Al Qur'an, bukan hanya berlomba lomba hafal Al Qur'an.
Kita lanjutkan jum'at depan.
Link Terkait:
No comments:
Post a Comment